Jadi... gw diterima di Australian National University (ANU) di (tentu saja) Australia. Di satu sisi merasa senang atas kesempatan yang indah ini. Terima kasih Tuhan atas berkatMu. Di sisi lain gw merasa ketakutan yang teramat sangat. Khawatir apakah gw bakal bisa lulus dari ANU dengan Master of Public Administration.
Semua bermula dari nota dinas kantor yang gw lihat perihal pembukaan beasiswa Australia Award Scholarship (AAS). Sebelumnya beasiswa ini bernama Australia Development Scholarship (ADS). Kenapa mereka mengganti nama? Kaga Penting, ini semua tentang gw bukan sejarah mereka. Karena secara persyaratan gw sudah memenuhi, dengan semangat gw mencoba melamat beasiswa tersebut.
Persyaratan-persyaratan dari beasiswa AAS tersebut tidaklah terlalu berat. Harus memiliki toefl diatas 500, ijasah ditambah dokumen-dokumen lain dan mengisi formulir aplikasi. Yang terakhir agak lebih berat karena formulir tersebut berisi pertanyaan seperti deskripsi pekerjaan sekarang, mengapa memilih Australia sebagai tempat untuk melanjutkan studi, bagaimana kalian menerapkan apa yang akan kalian pelajari saat kembali ke Indonesia dan lain-lain. Gw sedikit mengalami kebingungan terkait apa yang harus gw isi di formulir tersebut. Tapi dengan mengisi sedikit-sedikit, tinggalin, periksa kembali, perbaiki, tambah, kurangin kata-kata, tinggalin, balik lagi, minta bantuan pendapat dari orang lain (terutama yang memang alumni dari ADS) akhirnya formulir telah terisi dan dapat dikirim.
Kemudian dimulailah masa penantian panjang. Batas pengumpulan formulir Mei atau Juni 2013 (lupa) tapi pemberitahuan lulus administrasi November 2013. Cukup lama dan cukup membuat galau juga. Apalagi banyak beasiswa lain berseliweran dan gw tidak bisa ambil karena peraturan dari Kantor yang menetapkan bahwa seorang pegawai hanya boleh mendaftar satu beasiswa pada satu kesempatan. Jadi kalo melamar beasiswa yang lain, gw harus sudah diputuskan gagal beasiswa sebelumnya. Tidak bisa melamar 2 beasiswa sekaligus. Hidup dalam penantian memang tidak menyenangkan, dan hal ini akan gw alami beberapa bulan kedepan.
Akhirnya dapat email yang mengatakan gw lulus administrasi. Di email tersebut disebut juga terkait penjadwalan tes IELTS dan Wawancara. Tes IELTS gw lakuin awal Januari. Dari Bulan November sampai Akhir Desember gw mempelajari apa itu IELTS dan latihan soal-soal. Hal yang membuat khawatir adalah ini merupakan pertama kalinya gw akan mengikuti tes IELTS. Tidak seperti Toefl, tidak ada prediction test buat IELTS. Sedangkan bila ingin mengambil sebuah tes IELTS, harus mengeluarkan uang sekitar 1,8 juta rupiah (mood pelit gw saat itu sedang muncul). Tes wawancara sendiri dilaksanakan akhir Januari 2014. Gw diwawancara oleh dua orang. Satu pria bule dosen dari universitas di Australia dan satu ibu-ibu Indonesia dosen dari universitas di Indonesia. Kedua orang tersebut memiliki pengalaman studi di Australia. Hal-hal yang menjadi pertanyaan pada saat wawacara sebenarnya gampang-gampang susah. Pertanyaan seperti mengapa mengambil kuliah sastra inggris, mengapa dari sastra masuk Kementerian Keuangan, mengapa mau belajar di Australia, apakah kamu siap untuk belajar S2, apa hubungan antara S1 kamu sama program S2 yang akan kamu ambil dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tentang kita tapi entah mengapa bingung bagaimana menjawabnya, apalagi harus menjawab dengan cara yang menyakinkan. Beruntung sebelum memulai tes ini gw sudah diberitahu untuk menunjukan rasa percaya diri yang kuat dan bersikap santai, ramah dan tidak kaku.
Setelah kedua tes tersebut, masa penantian terulang kembali. Kali ini waktunya lebih singkat tapi deritanya lebih besar, kegalauan tingkat tinggi. Pertengahan februari kalau tidak salah kita dijadwalkan untuk mendapat kepastian lulus atau tidaknya. Diawali dengan hasil IELTS. Walau bagus, tetap dibawah harapan personal gw. Sebenarnya hal ini cukup membuat gw merasa down. Februari baru gw mendapat kabar. Saat lagi menunggu kerjaan, gw dikabari seorang teman kantor yang juga mengambil beasiswa tersebut. Dia baru memriksa email dan mengatakan bahwa dia lulus dan berhasil mendapatkan beasiswa AAS tersebut. Dia menyuruh gw untuk memeriksa email juga. Dengan jantung yang berdegup kencang, tangan yang gemetar dan juga hawa yang entah mengapa menjadi jauh lebih dingin dari sebelumnya, gw mengambil Galaxy Note 8 gw dan mengecek email. Dan hasilnya.... gw lulus.
Akhirnya beban penantian terangkat. Tidak lagi ada perasaan galau menunggu, stress, takut gagal dan merasa sia-sia membuang waktu. Ternyata hasilnya baik. Terlebih lagi yang sesuai harapan gw, karena nilai IELTS yang 7, gw dijadwalkan Pre-Departure Training yang 6 Minggu (yang paling cepat) dan direncanakan berangkat sekitar pertengahan tahun 2014.
Akhirnya sesuatu yang gw impi-impikan terjadi juga. Terima Kasih Tuhan, Nyokap, Bokap di surga beserta opung2, abang dan seluruh keluarga dan Teman2 gw. Atas dukungannya dan semangatnya.