Penumpang Busway mulai Dipisah
Ada dua hal yang terlintas di pikiran gw. Pertama, pelecehan seksual di alat transportasi sudah terjadi bertahun-tahun. Beberapa teman gw yang perempuan juga pernah menjadi korban. Umumnya kejadian ini terjadi di KRL Ekonomi atau bis-bis umum jakarta. Tapi kenapa baru mendapat sorotan luas sekarang. Apa karena terjadi di Transjakarta/Busway?
Apa karena ada pelaku yang tertangkap? Jelas kayanya bukan ini. Selama bertahun2 pasti ada korban-korban di KRL ekonomi atau bis2 yang melapor ke polisi. Bahkan temen perempuan gw pernah melapor kepada pihak yang berwajib tapi sayangnya tidak mendapat respon yang diharapkan. Kejadiannya seperti ini. Temen gw naek bis Agramas Jurusan Cikarang - UKI - Bogor Non AC (waktu itu masih boleh menurunkan atau menaikkan penumpang di UKI) Dia naek dari UKI dengan tujuan Bogor. Ditengah-tengah perjalanan, disekitar cibubur, ada seorang bapa2 yang dengan sengaja memperlihatkan alat kelaminnya kepada teman gw itu. Spontan temen gw teriak, nangis n maki-maki pelaku pelecehan seksual tersebut. Dikarenakan bis tersebut ada dalam tol jagorawi, kenek dan para penumpang lainnya berencana menyerahkan pelaku pelecehan seksual tersebut kepada pihak berwajib di Bogor. Sayangnya, pihak tersebut berkata: Mba, ini tidak bisa diproses disini tapi diwilayah tempat kejadian tersebut berlangsung (dengan kata lain Cibubur). Teman gw yang lagi emosi dan trauma merasa malas harus mengurusnya kembali ke Cibubur jadi memilih untuk melupakannya saja.
Apa mungkin karena status para penaik busway yang memang lebih baik (menengah keatas) dibanding mereka yang naek KRL ekonomi atau bis-bis biasa (menengah kebawah)?
Kedua, sistem menyerupai yang diterapkan pada transjakarta sekarang ini pernah diberlakukan untuk para penumpang KRL ekonomi Jakarta Bogor. Dahulu gerbong 1 dan 2 hanya boleh ditempati oleh para penumpang wanita. Tujuannya sama untuk menghindari kejadian pelecehan seksual. Tapi lama-kelamaan sistem tersebut hilang begitu saja (hanya stiker atau imbauannya saja yang masih tertinggal di dinding kereta). Pernah gw bertanya kepada teman perempuan, kemana sistem tersebut? Jawabnya sistem tersebut kurang populer disebabkan banyak penumpang wanita yang berpergian dengan teman laki-lakinya.
Pelecehan seksual dari transportasi memang harus diberantas dan pelakunya dihukum. Tetapi janganlah hanya terfokus kepada salah satu cara transportasi atau hanya Transjakarta. Para penumpang Kereta atau bis lainnya pun harus diberi keamanan. Dan Hendaknya dicari sistem atau metode yang benar-benar efektif, karena dengan sistem seperti yang diberita sekarang, saya yakin sistem tersebut perlahan-lahan akan menghilang dan kembali seperti semula. Bila itu terjadi ya... Mari kita tunggu kehebohan berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar